Bayangkan seseorang masuk ke sebuah kafe.
Ia berdiri di depan meja bar, menatap daftar menu yang terpajang rapi. Barista menunggu dengan senyum yang sudah terlatih—siap mencatat pesanan.
“Ada yang bisa dibantu?”
Orang itu mengangguk pelan, lalu berkata,
“Aku cuma nggak mau americano.”
Barista terdiam sejenak.
“Baik,” katanya kemudian, hati-hati.
“Jadi… maunya apa?”
Dan jawabannya tetap sama.
“Aku cuma nggak mau americano.”
Tak ada nada marah. Tak ada penjelasan tambahan.
Hanya penolakan yang diulang-ulang.
Barista itu bingung. Bukan karena menunya kurang lengkap, tapi karena tidak pernah ada pesanan yang benar-benar disebutkan. Yang ada hanya daftar hal yang ingin dihindari. Padahal di kafe itu ada latte, cappuccino, flat white—semuanya tersedia. Tapi tak satu pun diminta.
Begitulah cara banyak orang berbicara dengan hidup.
Tidak dengan menyebutkan apa yang diinginkan,
melainkan dengan daftar panjang tentang apa yang ingin dijauhi.
“Aku nggak mau stres.”
“Aku nggak mau hidup pas-pasan.”
“Aku nggak mau merasa terjebak.”
Kalimat-kalimat itu terdengar wajar. Bahkan terasa jujur.
Tapi jika didengar lebih lama, ada sesuatu yang ganjil.
Di mana arah sebenarnya?
Apa yang sedang dipilih, selain menjauh?
Penolakan memang terasa aman. Ia tidak menuntut komitmen. Tidak mengharuskan keberanian untuk menyebut harapan dengan jelas. Tapi penolakan juga tidak pernah memberi tujuan. Ia hanya menjelaskan ketakutan, bukan keinginan.
Dan hidup, entah bagaimana caranya, tidak bekerja dengan bahasa penyangkalan.
Ia merespons apa yang terus diulang,
apa yang paling sering disebut,
apa yang diberi ruang paling besar dalam perhatian.
Ketika fokus hanya tertuju pada stres, kekurangan, dan kebuntuan, hidup mendengarnya sebagai pusat cerita. Bukan sebagai masalah yang ingin dihindari, tapi sebagai tema yang terus diputar. Seperti berjalan ke depan sambil menatap dinding di belakang—langkah tetap diambil, tapi arah tak pernah benar-benar terlihat.
Maka mungkin yang perlu diubah bukan situasinya,
melainkan cara menyebutkannya.
Bukan lagi,
“Aku nggak mau stres,”
melainkan,
“Aku ingin hidup yang tenang dan cukup.”
Bukan,
“Aku nggak mau merasa kekurangan,”
tetapi,
“Aku memilih berkecukupan, dengan caraku sendiri.”
Bukan,
“Aku nggak mau merasa stuck,”
melainkan,
“Aku ingin bergerak, bertumbuh, dan merasa hidup.”
Perbedaannya halus, tapi dampaknya besar.
Karena yang pertama selalu berangkat dari ketakutan,
sementara yang kedua berangkat dari kejujuran.
Hidup mungkin tidak pernah benar-benar mengerti keluhan.
Tapi ia selalu mendengar apa yang disebut dengan jelas—
apa yang diulang, apa yang diimani, apa yang akhirnya diyakini pantas untuk datang.
Dan sering kali, bukan karena hidup tidak memberi,
melainkan karena kita tidak pernah benar-benar meminta.