· 5 min read

Tiga Lantai

Awal 2025 tidak datang dengan gegap gempita. Ia hadir seperti hari biasa—tenang, datar, dan sedikit lelah. Jika ada yang istimewa di malam pergantian tahun itu, mungkin hanya jagung bakar dan percakapan ringan bersama orang-orang yang kini tak lagi berada di lingkar yang sama. Lima mahasiswa akhir, duduk tanpa rencana besar, tanpa tahu bahwa hidup sebentar lagi akan mengubah banyak hal.

Tahun itu aku resmi menjadi mahasiswa semester delapan. Status yang terdengar sederhana, tapi menyimpan antrean sidang, revisi, dan malam-malam panjang di kampus. Aku sering menginap, makan bersama rekan-rekan lab agrikultur, berpindah dari satu agenda ke agenda lain. Di sela kesibukan itu, sebuah proyek freelance datang—yang pertama setelah lama aku menutup jasa. Kali ini bukan sendiri. Aku membangun tim kecil berisi lima orang, dan untuk sesaat hidup terasa kembali bergerak ke depan.

Februari mengajakku keluar kota. Tuban—tak terlalu jauh, tak terlalu istimewa. Malam-malam dihabiskan di warung kopi bersama teman lama, meski jumlahnya kian berkurang karena hidup menuntut arah masing-masing. Sidang laporan magang akhirnya selesai, disusul foto bersama dan revisi. Ada hari-hari bekerja dari kafe, obrolan yang lebih panjang dari rencana, dan pulang dengan rasa enggan menghadapi kenyataan. Semester akhir masih menyisakan kelas wajib dan TOEFL—keanehan yang hanya bisa diterima.

Maret datang bersama puasa. Hari-hari dimulai lebih pagi dan berakhir lebih malam, sekadar agar haus dan lapar tak terasa terlalu lama. Ada hujan badai di jam pulang kerja, belum berbuka, dalam perjalanan mengantar teman membeli laptop. Dari hasil kerja dua bulan terakhir, aku membeli smartband pertamaku—hal kecil, tapi memberi rasa bangga. Tes TOEFL pertama gagal karena sakit. Aku buka bersama, ngopi sampai pagi, memperbaiki motor dengan niat mudik. Rutinitas tahunan tetap ada: rumah teman, permainan kartu, game, gosip, dan tawa yang terasa akrab.

Semua itu membuat hidup terasa sibuk—bahkan cukup menyenangkan. Dan mungkin justru karena itu, aku tidak siap ketika April datang dan menghentikannya.

Idul Fitri berlalu. Aku mudik sendirian naik motor, menyusuri jarak dengan kepala penuh pikiran. Ada pernikahan teman SMA, reuni kecil, kopi sampai pagi. Ada hari-hari yang terasa ringan: bertemu “dia”, menghabiskan waktu bersama, berbincang tanpa arah, dan menunda kepulangan lebih lama dari seharusnya. Aku kira hidup sedang memberiku jeda.

Namun di perjalanan dari Tuban menuju rumahku, jeda itu berubah menjadi benturan.

Kecelakaan datang tanpa aba-aba—tanpa dramatisasi, tanpa kesempatan bersiap. Satu tangan dan satu kaki patah. Dua kali operasi. Gips yang membungkus tubuh. Kursi roda yang menggantikan langkah. Rumah sakit menjadi tempat yang paling sering kudatangi, lebih sering dari kampus atau rumah teman. Hari-hari menyempit pada jadwal kontrol, ruang tunggu, bau antiseptik, dan telur bulat yang harus kumakan tiga kali sehari sampai akhirnya menimbulkan trauma kecil yang aneh untuk diceritakan.

Dari seseorang yang terbiasa bergerak, aku dipaksa diam. Dan di situ aku belajar bahwa diam bisa sama melelahkannya dengan berlari.

Mei berjalan tanpa banyak penanda. Sidang kedua kulalui dari rumah, masih di kursi roda. Tidak ada perayaan, tidak ada rasa lega—hanya kewajiban yang harus diselesaikan. Hidup terasa seperti diperkecil: kasur, kursi roda, ruang ortopedi, radiologi, fisioterapi. Aku tidak pergi ke mana-mana, tapi waktu tetap berjalan. Dan aku hanya bisa mengikutinya dari tempatku duduk.

Di akhir bulan, aku kembali ke kampus. Dengan tongkat sebagai atribut baru dan tubuh yang belum sepenuhnya percaya diri, aku menjalani ruang-ruang yang dulu terasa biasa. Lift dosen membawaku naik—sesuatu yang dulu tak pernah kupikirkan. Tes TOEFL kedua kembali gagal, dan kali ini rasanya tidak lagi mengejutkan. Aku mulai terbiasa menerima kabar yang tidak sesuai harapan.

Juni datang sebagai ujian terakhir—bukan hanya akademik, tapi juga mental.

Hari itu aku harus semhas. Lift rusak. Tidak ada alternatif. Dengan kaki yang belum sepenuhnya pulih dan tubuh yang masih belajar seimbang, aku naik tangga tiga lantai. Pelan. Satu anak tangga, satu tarikan napas. Tidak heroik, tidak dramatis—hanya keras dan sunyi. Di setiap lantai, aku sempat ragu: apakah aku terlalu memaksakan diri?

Ternyata aku tidak.

Sidang itu kulalui tanpa revisi. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku benar-benar merasa bangga pada diriku sendiri. Bukan karena hasilnya, tapi karena aku sampai di sana—meski harus tertatih, meski harus berhenti sebentar di setiap lantai kehidupan yang terasa berat. Setelah itu, aku mulai mengizinkan diriku bergerak lagi. Bukan untuk berlari, tapi untuk menempuh jarak dengan cara yang baru.

Juli menjadi bulan penyelesaian. Pameran proyek akhir, TOEFL yang akhirnya lolos, dan perpisahan dengan “dia”. Semua memang ada harganya. Aku menyelesaikan pemberkasan yudisium, kembali ke Tuban, sowan, ngopi, dan duduk lama di kursi Alfamart—merenung tentang arah setelah ini. Aku belum bisa pergi jauh. Rumah sakit masih sering memanggil. Lamaran freelance belum berbalas.

Agustus dan September berjalan seperti pamit yang panjang. Berkas wisuda, foto ijazah dengan jas, reorganisasi terakhir UKM, dan akun kampus yang mulai dimatikan. Aku lulus. Tanpa kembali ke kampus karena keadaan, aku menerima status itu dengan tenang. Terapi masih berlanjut, kadang di rumah sakit, kadang di pemandian air panas, kadang hanya kopi malam sebelum pulang.

Oktober menjadi puncak yang tak pernah benar-benar kurencanakan. Toga diambil. Wisuda dijalani. Foto-foto bersama teman, seangkatan, dan lingkar yang tersisa. Aku dan “dia” sempat kembali, dan kebahagiaan itu terasa nyata. Aku diterima bekerja sebagai digital product developer. Perjalanan dinas pertama ke Bandung, naik kereta eksekutif, mengisi edumarketing—semua terasa seperti lembar baru.

November dan Desember berjalan lebih tenang. Aku bekerja, belajar hal baru, kembali ngopi, dan mengganti perlengkapan riding yang rusak sejak kecelakaan. Proyek baru dimulai, rapat besar pertama dijalani, hingga akhirnya tahun ditutup dengan satu perpisahan lagi—kali ini tanpa kejutan, hanya kelelahan yang pasrah.

Dari semua yang terjadi, aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun di sela-sela yang patah dan tertunda, masih ada hal-hal kecil yang bisa digenggam—cukup untuk membuat hari terasa layak dijalani.

Aku tidak mendapatkan semua yang kuharapkan di 2025.
Tapi aku belajar berjalan lagi.
Aku belajar berhenti.
Aku belajar menerima.

Dan ternyata, itu sudah cukup untuk menutup tahun ini—masih berdiri, meski tak lagi sama seperti sebelumnya.